STUDI KASUS EKONOMI

Tugas 2 Mata Kuliah Softskill “Aspek Hukum dalam Ekonomi”
Kelompok:
Harris Fadilah (2B21704)
Humara Mahira (23216324)
Widy Chintya (27216635)
 
Jumat 14 April 2017, 15:37 WIB
Terlibat Penipuan Jual-Beli Online, Mahasiswa Ini Ditangkap Polisi
Mei Amelia R – detikNews
Jakarta – Unit III Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap komplotan pelaku penipuan jual beli online. Para pelaku menawarkan penjualan pompa fiktif sehingga merugikan korban senilai Rp 23 juta lebih.

“Pelaku yang sudah diamankan ada tiga orang, salah satunya berstatus sebagai mahasiswa,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Wahyu Hadiningrat kepada detikcom, Jumat (14/4/2017).

Tiga pelaku yakni Bantaqia (36) ditangkap di Cinere, Depok dan mahasiswa bernama Firman (25) ditangkap di rumah kontrakannya di Cinere, Depok pada tanggal 4 April, serta Said Jauhari (42) ditangkap di Serpong, Tangerang Selatan pada tanggal 5 April.

Wahyu menerangkan, ketiganya ditangkap atas laporan korban bernama Kristinus pada tanggal 30 Maret 2017 lalu. Kristinus mengalami kerugian Rp 23.130.000 setelah membeli mesin pompa melalui website http://www.wildanwijayagroup.com.

“Para tersangka mengaku bernama Joni Pratama yang bekerja di PT Wildan Wijaya Bersaudara menawarkan mesin pompa di internet dengan website http://www.wildanwijayagroup.com, di mana korban tertarik untuk membeli sehingga terjadi kesepakatan dengan harga Rp 46.260.000 untuk 2 unit mesin pompa,” terang Wahyu.

Setelah bersepakat masalah harga, pelaku kemudian meminta korban untuk mentransfer uang muka sebesar 50 persen. Korban kemudian mengirimkan uang sebesar Rp 23.130.000 via internet banking.

“Setelah uang muka disetor ke rekening pelaku, barang tidak kunjung dikirim ke korban sehingga akhirnya korban melaporkan tindak pidana penipuan tersebut,” sambungnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Akhmad Yusep mengatakan, ketiga tersangka memiliki peran masing-masing dalam penipuan via online tersebut.

“Tersangka Bantaqia adalah pelaku yang menghubungi dan mengirim email ke korban dengan mengaku bernama Joni Pratama sebagai karyawan PT Wilman Wijaya Bersaudara, dan dia juga membuat rekening penampungan serta mengambil uang dari ATM. Tersangka mendapatkan keuntungan Rp 10 juta,” terang Yusep.

Sementara tersangka Firman berperan sebagai orang yang mengaku karyawan dan menghubungi korban. “Tersangka mendapatkan keuntungan Rp 1 juta,” imbuhnya.

Sedangkan tersangka Said Jauhari yang membuat website dan menghubungi korban. “Tersangka mendapatkan keuntungan sebesar Rp 10 juta,” tuturnya.

Dari para tersangka, polisi menyita 2 unit laptop, 13 unit telepon genggam, 3 lembar KTP,
1 kartu ATM, 8 buah SIM card dan 1 bundel dokumen palsu PT Wilman Wijaya Bersaudara.
PENYELESAIAN MASALAH:

ARBITRASE
Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa (berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa). Adapun pada saat berlakunya UU No. 30 Tahun 1999 ini, ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana diatur dalam pasal 615 sampai 651 Rv, Pasal 377 HIR, dan Pasal 705 Rbg tidak berlaku lagi. Adanya UU No. 30 Tahun 1999 telah berusaha mengakomodir semua aspek mengenai arbitrase baik dari segi hukum maupun substansinya dengan ruang lingkup baik nasional maupun internasional.
Adapun beberapa hal yang menjadi keuntungan Arbitrase dibandingkan menyelesaikan sengketa melalui jalur litigasi adalah : 
  1. 1) Sidang tertutup untuk umum ; 
  2. 2) Prosesnya cepat (maksimal enam bulan) ; 
  3. 3) Putusannya final dan tidak dapat dibanding atau kasasi ; 
  4. 4) Arbiternya dipilih oleh para pihak, ahli dalam bidang yang disengketakan, dan memiliki integritas atau moral yang tinggi ; 
  5. 5) Walaupun biaya formalnya lebih mahal daripada biaya pengadilan, tetapi tidak ada ‘biaya-biaya lain’ ; hingga 
  6. 6) Khusus di Indonesia, para pihak dapat mempresentasikan kasusnya dihadapan Majelis Arbitrase dan Majelis Arbitrase dapat langsung meminta klarifikasi oleh para pihak.
Kesimpulan
Dalam kasus penipuan jual beli onlie ini dapat disimpulkan, jika pihak yang dirugikan memilih jalur hukum arbitrasesangat bagusKelebihan arbitrase dari sisi hukum acara terdapat fleksibilitas yang tetap berada dalam koridor hukum. Di sisi lain, arbiter yang memiliki pengetahuan baik dari segi hukum maupun dari segi teknis, serta ketepatan waktu persidangan, menjadi kelebihan arbitrase itu sendiri sehingga sidang dapat berjalan secara efektif.
SUMBER:
Iklan

PERLINDUNGAN KONSUMEN

1.      Pengertian Konsumen

  •           Menurut Philip Kotler (2000) dalam bukunya Prinsiples Of Marketing adalah semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk dikonsumsi pribadi.

Psikologi konsumen adalah the study of consumer behavior in a relation environment, dimana pada psikologi konsumen membahas tingkah laku individu sebagai konsumen. Psikologi konsumen merupakan merupakan psikologi ekonomi dalam pengertian mikro.                                                              Perilaku konsumen adalah studi mengenai individu, kelompok atau organisasi dan proses-proses yang dilakukan dalam memilih, menentukan, mendapatkan, menggunakan, dan menghentikan pemakaian produk, jasa, pengalaman, atau ide untuk memuaskan kebutuhan serta dampak proses-proses tersebut terhadap konsumen dan masyarakat (Hawkins, Best & Coney, 2001)

Definisi lain dari psikologi konsumen adalah kegiatan bersibuk diri secara luas dimana manusia sebagai konsumen dari barang dan jasa. Sasaran utama dari psikologi konsumen itu adalah perilaku konsumen, misalnya dengan keadaan dan alasannya seseorang tersebut menentukan pilihannya. Karena sasaran utamanya menjelaskan perilaku maka di samping psikologi konsumen juga digunakan istilah perilaku konsumen.

2.      Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen

  1. Asas

Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan lima asas,yaitu :

  • Asas Manfaat Adalah segala upaya dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
  • Asas Keadilan Adalah memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.
  • Asas Keseimbangan Adalah memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil maupun spiritual.
  • Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen Adalah untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselematan pada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
  • Asas Kepastian Hukum Adalah baik pelaku maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen serta negara menjamin kepastian hukum.
  1. Tujuan

Menurut Pasal 3 tentang Perlindungan konsumen, bertujuan:

  1. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
  2. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa.
  3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
  4. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
  5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.
  6. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

3.      Hak & Kewajiban Konsumen

  • Hak Konsumen

Diatur dalam Pasal 4 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :

  • Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang jasa
  • Hak untuk memilih barang.jasa serta mendapatkan barang/jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan
  • Hak atas informasi yang benar,jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa
  • Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan
  • Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen dan upaya penyelesaian sengketa perlindunngan konsumen secara patut
  • Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
  • Hak untuk diperlakukan adil/dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan status sosialnya
  • Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
  • Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya
  1. Kewajiban Konsumen

Diatur dalam pasal 5 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :

  • Membaca, mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian/pemanfaatan barang/jasa demi keamanan dan keselamatan
  • Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang jasa
  • Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
  • Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut

 4.      Hak & Kewajiban Pelaku Usaha

  1. Hak Pelaku Usaha

Diatur dalam Pasal 6 UU Perlindungan Konsumen, meliputi :

  • Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang/jasa yang diperdagangkan
  • Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik
  • Hak untuk melakukan pembelaan diri di dalam penyelesaian sengketa konsumen
  • Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang/jasa yang diperdagangkan
  • Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya
  1. Kewajiban Pelaku Usaha

Diatur dalam Pasal 7 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :

  • Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya
  • Melakukan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa serta memberi penjelasan penggunaan,perbaikan dan pemeliharaan
  • Memperlakukan/melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; pelaku usah dilarang membedakan konsumen dalam memberikan pelayanan dan dilarang membedakan mutu pelayanan kepada konsumen
  • Menjamin mutu barang/jasa yang diproduksi/diperdangankan berdasarkan ketentuan standar mutu barang/jasa yang berlaku
  • Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji/mencoba barang/jasa tertentu serta memberi jaminan/garansi atas barang yang dibuat/diperdagangkan
  • Memberi kompensasi, ganti rugi/penggantian atas kerugian akibat penggunaan,pemakaian dan pemanfaatan barang/jasa yang diperdagangkan
  • Memberi kompensasi ganti rugi/penggantian barang/jasa yang dterima/dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

KESIMPULAN

Konsumen ialah orang yang memakai barang atau jasa guna untuk memenuhi keperluan dan kebutuhannya. Dalam ilmu ekonomi dapat dikelompokkan pada golongan besar suatu rumah tangga yaitu golongan Rumah Tangga Konsumsi (RTK), dan golongan Rumah Tangga Produksi (RTP).

Perlindungan konsumen adalah perangkat yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak sebagai contoh para penjual diwajibkan menunjukka tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen. Dengan kata lain, segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.

Oleh karena itu, Sebagai pemakai barang/jasa, konsumen memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Pengetahuan tentang hak-hak konsumen sangat penting agar orang bisa bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri. Tujuannya, jika adanya tindakan yang tidak adil terhadap dirinya, ia secara spontan menyadari akan hal itu. Konsumen kemudian bisa bertindak lebih jauh untuk memperjuangkan hak-haknya. Dengan kata lain, ia tidak hanya tinggal diam saja ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha.

↪Referensi :

Kartika Sari, Elsi., Simangunsong, Advendi. 2007. Hukum Dalam Ekonomi. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yudhitiya Dyah Sukmadewi SH., MH., MK Aspek Hukum Dalam Bisnis

 

 

Nama Kelompok  Softskill:

  1. 1. Widy Cinthya Yusuf      (27216635)
  2. Harris Fadilah                    (2B217024)
  3. Humara Mahira                 (23216324)

Review Good Governance

I. INTRODUCTION
  Corporate Social Responsibility practices plays an important role for the company because the company live in the community and the possibility of its activity has social and environmental impacts. Disclosure of socialnresponsibility is a managerial tool that companies use to avoid social and environmental conflicts. In addition, the disclosure of social responsibility can be viewed as a form of company accountability to the public to explain the social impact of the company (Ghozali and Chariri, 2007).CSR as an idea, the company no longer faced with the responsibility that rests on a single bottom line, the value of the company (corporate value) which is reflected in its financialcondition only. But corporate responsibility should rest on the triple bottom lines, financial information,
social and environmental information, which is then called a sustainability report.
  Sustainability reporting has gained attention in the practice of global business and become one of the criteria in assessing a company’s social responsibility. The leaders of the world’s companies are increasingly recognizing that a more comprehensive disclosure statements (not just financial statements) will support the corporate strategy.Practices and the disclosure of corporate social responsibility is a logical consequence of the implementation of the concept of Corporate Governance, which states that companies need to consider the interests of its stakeholders,in accordance with existing rules and to establish active cooperation with its stakeholders for long-term survival of the firm (Utama, 2007).

  Theoretically, the implementation of Good Corporate Governance (GCG) can increase the value of the company, due to the implementation of good Corporate Governance to reduce risk that may be made by the board with the decisions that benefit themselves, and general corporate governance can increase the level of investor confidence (Newell and Wilson in Juniarti and Sentosa, 2009). The increased level of confidence was due to GCG well implementation considered capable of providing effective protection to the investor in obtaining a reasonable return of investment (Tjager et al. In Juniarti and Sentosa, 2009). Measurement of GCG implementation by the bcompany can be proxied with a few indicators such as managerial ownership, institutional ownership,independent commissioners, commissioners, and the size of the audit committee.
II. BUSINESS ISSUE
    Awareness about the importance of implementing CSR is becoming a global trend in line with the rise of global public awareness of the products that are environmentally friendly and manufactured with attention to social norms and principles of human rights. For example, European banks only lend to plantation companies in Asia where there is a guarantee of the company, ie, when they not opening plantations by burning the forest. Other global trends in CSR implementation in the field of capital markets is the adoption of an index that includes the category of stocks that have been practicing CSR.
   For example,the New York Stock Exchange has the Dow Jones Sustainability Index (DJSI) for the shares of companies that have considered the value of corporate sustainability with one of the criteria is the practice of CSR. Similarly, the London Stock Exchange which has a Socially Responsible Investment (SRI) Index and the Financial Times Stock Exchange (FTSE) which has the FTSE4Good since 2001.
  1. Conceptual Framework

        The study was conducted to give an idea of the impact of good corporate governance and financial performance of companies on the disclosure of social responsibility undertaken by the company in Indonesia in general and telecommunications companies in particular Measurement of GCG implementation by the company can be proxied with a few indicators such as managerial ownership, institutional ownership, independent commissioners,commissioners, and the size of the audit committee. Firm size is a company that is widely used predictor variables to explain variation in disclosure in corporate annual reports. While the assessment of financial performance can be seen from the company’s ability to generate profit and leverage. Profitability ratio indicates the company’s success in generating profit, and leverage is a tool to measure how much the company depends on the lender to finance the company’s assets. Agency theory also predicts that firms with higher leverage ratios will reveal more social information, due to agency costs as the company’s capital structure is higher (Jensen and Meckling in Anggraini (2006).

  2. Method of Data Collection and Analysis
          The sampling technique used in this study were saturated sampling. According Sugiyono (2004: 61) saturated sampling is a technique of determining if all members of
the population sample used as a sample. This is often done when the population is relatively small, less than 30 people. Another term is saturated sample census, in which all members of the population sampled. Overall sample, among others:
1. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
2. PT XL Axiata Tbk (EXEL)
3. PT Mobile-8 Telecom Tbk FREN)
4. PT Inovisi Infracom Tbk (INVS)
5. PT Indosat Tbk (ISAT)
6. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
    By engaging the the variables of the study:
    1. Managerial Ownership (X1); the number of shares held in company management in a period. The indicator is the number of shares owned by management and the number of shares outstanding.
    2. Institutional ownership (X2);the number of shares owned by a instituasi in a company in a period. Indicator is the number of shares owned by institutions and the number of
shares outstanding.
    3. Independent Commissioner (X3); that is a commissioner who has no ties to the company and in charge of overseeing the management of the company. Indicator is
the number of independent commissioner and the commissioner of the total.
   4. Board of Commissioners (X4); that is a commissioner who has ties to the company and served in overseeing the management of the company. Indicators and measuring tools is the number of commissioners which was recorded in the financial laportan in
one period.
   5. Size of the Audit Committee (x5); additional organ in charge of the company in assisting the board of commissioners. Indicators and measuring tools is the number of audit committee members are recorded in the financial laportan in one period.
   6. Company size (X6); that is a large scale in which small firms can be classified
according to a variety of ways, including: total assets, log size, the value of the stock market, and others. In this case, an indicator of firm size used is the ratio of net
profit after tax (profit after tax) of net sales (net sales).
   7. Profitability (X7); the company’s ability to earn income (profit) at a certain period.
Profitability indicators in this study is the ratio of ROE.
   8. Leverage (X8); the company’s dependence on debt to finance its operations. Leverage
indicator in this study is the ratio of DER.
   9. Disclosure of Corporate Social Responsibility (Y); Disclosure of social responsibility is
measured by proxy CSRDI (corporate social responsibility disclosure index). This approach essentially uses the dichotomy approach to CSR that every item in the research instruments were given a value of 1 if disclosed, and the value 0 if not disclosed. Furthermore, the score of each item are summed to obtain the overall score for each
company.
III. ANALYSIS
      After passing the classic assumptions test, which is the test for normality, multicollinearity,and heterokedastisity,then the data using multiple regression analysis indicates there is a relationship of good corporate governance and financial performance with corporate social disclosure in accordance hypotheses simultaneously, while institutional ownership and the committee significantly affect the audit of corporate social responsibility disclosure partially. Institutional ownership are generally able to act as a monitor side firms. Firms with large institutional ownership indicates its ability to monitor management.The greater the institutional ownership, the more efficient utilization of corporate assets and can be expected also to act as a preventive against waste by management. This means that institutional ownership may be the driving force companies to make disclosure of social responsibility. Independent or external influence in CSR disclosures appear to influence the Audit Committee. Audit

Committee is responsible to a company’s financial statements, corporate governance and corporate control. Negatively affect the profitability of corporate social responsibility
disclosure. This is supported by the argument that when a company has a high rate of profit, the company (management) do not need to report considers the things that can interfere with information about the company’s financial success. Conversely, when low levels of profitability, they expect the users of the report will read “good news” the company’s performance. In this study, the leverage proxied with debt to equity showed no significant effect on the disclosure of corporate social responsibility. This means that the high and low levels of leverage does not affect the company’s broader corporate social responsibility disclosure. Thus these results failed to support the agency theory. After further research by multiple linear regression analysis (backward method) then showed that the audit committee is the most influential variable. This is because the role of the audit committee as to ensure that the interests of shareholders are prot ected well in conjunction with reporting finance (financial reporting) and internal control (internal control).
IV. CONCLUSION & RECOMMENDATION
   From the above studies demonstrate CSR disclosures by a company in the telecommunications sector carried out by an independent influence or the influence of external parties. The larger a company and the more profit the company is no guarantee that the more extensive disclosure of social responsibility. Annual reports for large telkommunication company is not as an efficient tool for disseminating information on CSR. Recent research conducted by Hill et. al (2007) gives an overview which supports the implementation of CSR as being part of the company’s business strategy. Hill et. al conducted a study of several companies in the United States, Europe and Asia who practice CSR and relate it to the measured value of the company’s stock value of companies. Their study found that after controlling for other variables of the companies doing CSR, in the short term (3-5 years) did not experience a significant increase in stock value, however, in the long term (10 years), companies are committed to CSR is, to increase share value is very significant in comparison with those companies who do not practice CSR. From these studies can be seen that the CSR in the short term does not provide adequate value for shareholders,because the cost of CSR, even reducing the company’s profit can be achieved. However, in the long run, companies that have a strong commitment to CSR, its performance was beyond the companies that have no commitment to CSR. In short, CSR can create value for companies, especially in the long run.There are still many companies do not want to run CSR programs because he saw it only as an expenditure (cost center). CSR does not provide the financial results in the short term. But the CSR will result either directly or indirectly on the company’s financial future. Thus if the companies do CSR programs are expected to sustainability will be secured with good company. Therefore, CSR programs more appropriately classified as an investment and should be the business strategy of a company.
REFERENCE
Anggraini, Fr. Reni Retno. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial Dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Bursa Efek Jakarta), SNA IX, Padang, 23-26 Agustus.
Arifin, 2005, Peran Akuntan Dalam Menegakkan Prinsip Good Corporate Governance Pada Perusahaan di Indonesia (Tinjauan Perspektif Teori Keagenan), Disampaikan Pada Sidang Senat Guru Besar Universitas Diponegoro Dalam Rangka Pengusulan Jabatan Guru Besar, Semarang : Universitas Diponegoro.
Arikunto, Suharsimi 2002. Analisis Regresi, Teori, Kasus dan Solusi , BPFE Yogyakarta.
Daniati, Ninna Dan Suhairi, 2006, Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan Arus Kas, Laba Kotor, Dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return Saham (Survey Pada Industri Textile Dan Automotive Yang Terdaftar Di BEJ), SNA 9 Padang, h. 1-23. Daniri, Mas Achmad, 2008, Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan , Jurnal Riset, Vol. 3, No. 3.

Darwis, Herman, 2009, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Financial Leverage Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan High Profil di BEI , Jurnal
Keuangan dan Perbankan, Vol. 13, No. 1, hal. 52-61.
Dilling, Petra F.A., 2010, Sustainability Reporting In A Global Context: What Are The Characteristics Of Corporations That Provide High Quality Sustainability Reports-An Empirical Analysis , International Business & Economics Research Journal, Volume 9, Number 1,
Ghozali, I dan A. Chariri, 2007, Teori Akuntansi , Semarang: BP UNDIP
Haryono, Slamet, 2005, Struktur Kepemilikan Dalam Bingkai Teori Keagenan, Jurnal Akuntansi & Bisnis, Vol. 5, No. 1, Pebruari, hal : 63 – 71
Hidayati, Naila Nuur dan Murni, Sri, 2009, Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Earnings Response Coefficient Pada Perusahaan High Profile, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol 11, N. hal 1-18
Indrawati, Novita, 2008, Pengaruh Enviromental Performance Dan Political Visibility Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility 9CSR) Dalam Annual Report , Jurnal Ichsan Gorontalo, Vol. 3, No. 4, hal 1-13
Juniarti dan Sentosa, Agnes Andriyani, 2009, Pengaruh Good Corporate Governance, Voluntary Disclosure Terhadap Biaya Hutang (Costs of Debt), Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 11, No. 2, hal, 88-100.
Morimoto, Risako, Ash , John and Hope , Christopher, Corporate Social Responsibility Audit: From Theory to Practice (2004). University of Cambridge, Judge Institute of Management Working Paper No. 14/2004 Mulyadi, 2002. Auditing , Jakarta : Salemba Empat.
Nasution, Marihot dan Setiawan, Doddy, 2007, Pengaruh Corporat Governance Terhadap Manajemen Laba di Industri Manufaktur.SNA X, Makassar, 26-28 Juli 2007.
Nurkhin, Ahmad, 2009, Corporate Governance dan Profitabilitas; Pengaruhnya Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia), Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.

Oktorina, Megawati, Suharli, Michell, Hubungan Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Tunai Dengan Kecukupan Kas dan Likuiditas Sebagai Moderating Variabel, Me dia Riset Akuntansi, Audting dan Informasi, Vol. 7, No. 2, Agustus,Hal. 141-161.
Pujiati, Diyah dan Widanar, Erman, 2009, Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap
Nilai Perusahaan: Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening , Jurnal Ekonomi Bisnis & Akuntansi Ventura ‘ . l Vol 12., No. l April, hal 7l-86. Sembiring, Eddy Rismanda. 2003. Kinerja Keuangan, Political Visibility, Ketergantungan Pada Hutang, dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan .SNA VI, Surabaya, 16 – 17 Oktober. .
Solihin, Ismail, 2009, Corporate Social Responsibility From Charity to Sustainability , Jakarta : Salemba Empat. Sugiyono, 2004, Statistika Untuk Penelitian , Alfabeta, Bandung.
Utama, Sidharta. 2007. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia.
Pengukuhan guru besar tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Wibisono, Yusuf, 2007, Membedah Konsep & Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility), Gresik : Fascho Publishing.
Yolana, Chastina Dan Martani Dwi, 2005, Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Fenomena Underpricing Pada Penawaran
Saham Perdana Di Bej Tahun 1994 – 2001, SNA 8 Solo, h. 538-553

Review Jurnal Accounting & Finance

Apa keterampilan dan atribut yang lulusan akuntansi butuhkan?

Bukti dari persepsi mahasiswa dan majikan harapan

Marie H. Kavanagh Sebuah . Lyndal Drennan b

Sekolah Akuntansi, Ekonomi dan Keuangan, University of Southern Queensland

Toowoomba, 4350, Australia

b Brisbane Graduate School of Business, Queensland University of Technology,

Brisbane, 4001, Australia

Abstrak

Untuk beberapa tahun ada banyak perdebatan antara berbagai stakeholder tentang perlunya lulusan akuntansi untuk mengembangkan satu set yang lebih luas dari keterampilan untuk dapat mengejar karir dalam profesi akuntansi. Penelitian ini menggunakan metode campuran untuk memeriksa persepsi dan harapan dua pemangku kepentingan utama: mahasiswa dan pengusaha. Temuan menunjukkan bahwa siswa menyadari harapan pengusaha dalam hal keterampilan komunikasi, analisis, profesional dan kerja sama tim. Meskipun pengusaha masih mengharapkan pemahaman yang baik tentang keterampilan akuntansi dasar dan kemampuan analisis yang kuat, mereka juga membutuhkan ‘kesadaran bisnis dan pengetahuan dalam hal ‘dunia nyata’.

  1. Perkenalan

Profesi akuntansi di seluruh dunia telah datang di bawah pengawasan dekat dalam dekade terakhir sebagai akibat dari serangkaian tinggi-profile kegagalan perusahaan, mengubah teknologi dan globalisasi ekonomi dunia. driver perubahan ini telah mengurangi biaya informasi dan meningkatkan tingkat persaingan antar organisasi. Akibatnya, pengusaha mencari beragam keterampilan dan atribut lulusan akuntansi baru untuk mempertahankan keunggulan kompetitif meskipun fakta bahwa banyak negara menghadapi kekurangan keterampilan di bidang (Birrell, 2006). Baru-baru ini, pelatihan dan pendidikan akuntan di seluruh dunia telah menjadi subyek dari banyak perdebatan dan perjuangan politik (Van Wyhe, 1994; Mohamed dan Lashine, 2003). Sementara memanfaatkan kekuatan tradisional,

Sebuah pendidikan universitas harus meletakkan dasar untuk komitmen seumur hidup oleh lulusan untuk belajar dan pengembangan profesional (West, 1998). Klaim bahwa mahasiswa yang sakit-siap untuk memulai praktek profesional dan bahwa perguruan tinggi harus mempersiapkan siswa mereka dengan rentang yang lebih komprehensif keterampilan menempati media hampir setiap minggu, menyebabkan banyak perdebatan (Albin dan Crockett, 1991; Hall, 1998; Mathews, 2000). Universitas telah merespon dengan mengembangkan dan mengartikulasikan kebijakan yang koheren dan kerangka kerja untuk membangun atribut lulusan dalam dan di program (Tempone dan Martin,2003).

Akuntansi badan-badan profesional di Australia juga telah mengakui pentingnya pengembangan keterampilan generik dan atribut bagi lulusan akuntansi. Berdasarkan karya Birkett (1993), badan-badan profesional telah menghasilkan Pedoman Akreditasi Perguruan membuat eksplisit harapan mereka dari tingkat keterampilan generik (kognitif dan perilaku) lulusan. Graduate atribut yang dikembangkan selama program akuntansi sekarang harus melampaui pengetahuan dan keahlian disiplin atau teknis dan termasuk kualitas yang mempersiapkan lulusan sebagai pembelajar seumur hidup, sebagai ‘warga dunia’, sebagai agen untuk kebaikan sosial, dan untuk pengembangan pribadi dalam terang masa depan yang tidak diketahui (Bowden dan Marton, 1998; Barrie, 2004).

Elliott dan Jacobson (2002) menunjukkan bahwa akuntan membutuhkan pendidikan dalam tubuh yang saling melengkapi pengetahuan, seperti perilaku organisasi, masalah dalam manajemen strategis, pengukuran dan kemampuan analisis, sementara Mathews (2004) menunjukkan kurikulum interdisipliner di universitas. Yang lain berpendapat bahwa pendidik universitas dari akuntan profesional masa depan harus berkomitmen untuk mengembangkan atribut yang relevan diidentifikasi sebagai diinginkan untuk profesional praktek akuntansi (American Association Akuntansi, 1986; Pendidikan Akuntansi Perubahan Komisi, 1990; IFAC, 2006). Howieson (2003) melihat fokus masa depan akuntansi profesional menjadi manajemen pengetahuan dan mengadaptasi pendidikan akuntansi profesional untuk memanfaatkan itu. Pandangan ini didukung oleh de la Harpe et al. ( 1999), yang menganjurkanmemanfaatkan itu. Pandangan ini didukung oleh de la Harpe et al. ( 1999), yang menganjurkan mengintegrasikan keterampilan profesional di seluruh disiplin ilmu. Apakah lebih baik untuk mengembangkan keterampilan ini dalam kelas atau dalam konteks datang untuk mengetahui disiplin (Laurillard, 1984; Boud dan Feletti, 1991) merupakan fokus dari banyak perdebatan.

Secara global, laporan profesional menyatakan keprihatinan bahwa pendidikan akuntansi over-menekankan kemampuan teknis lulusan untuk merugikan kompetensi lainnya, dan menyarankan perlunya strategi pembelajaran alternatif, seperti berbasis kasus metode, seminar, permainan peran, dan simulasi untuk terlibat siswa dalam proses belajar dan mengembangkan keterampilan seperti kreatif dan berpikir kritis (Amerika Akuntansi Association, 1986; Pendidikan Akuntansi Perubahan Komisi, 1990; IFAC, 1996; Adler dan Milne, 1997). Banyak peneliti telah merekomendasikan meninggalkan sepenuhnya prosedural (teknis) pendekatan akuntansi keuangan (Zeff, 1989; Jarum dan Powers, 1990; Bonk dan Smith, 1998; Albrecht dan Sack, 2000; Herring dan Williams, 2000). Hunton (2002) berpendapat bahwa banyak tugas akuntansi tradisional dapat diandalkan otomatis,

Sebaliknya, beberapa merasa bahwa itu tidak realistis bagi perguruan tinggi untuk berusaha menjamin bahwa lulusan akan memiliki keterampilan generik yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan pengusaha terutama di berbagai disiplin ilmu (Clanchy dan Ballard, 1995; Cranmer, 2006). Namun, Albrecht dan Sack (. 2000, p 55) menekankan pentingnya pengembangan keterampilan selama program akuntansi dan menyatakan bahwa: ‘Siswa lupa apa yang mereka menghafal. pengetahuan konten menjadi tanggal dan sering tidak dapat dialihkan di berbagai jenis pekerjaan. Di sisi lain keterampilan yang penting jarang menjadi usang dan biasanya dialihkan di seluruh tugas dan karir.

Gabric dan McFadden (2000) menyelidiki persepsi dasar keterampilan berharga yang diharapkan, perintisan bahwa siswa setuju bahwa mengembangkan ‘siswa pribadi keterampilan dipindahtangankan’, seperti komunikasi dan manajemen waktu, yang dapat digunakan dalam’. . . berbagai macam situasi yang berhubungan dengan karir tidak hanya penting untuk membuat mereka lebih dipekerjakan tetapi juga merupakan’. . . bagian fundamental dari pencapaian. . . pendidikan yang baik'(Haigh dan Kilmartin, 1999, pp. 1, 203). Sejauh prospek karir masa depan yang bersangkutan, siswa dinilai mengembangkan kerja tim dan kemampuan presentasi publik sebagai hasil belajar yang paling penting dari kursus dan menekankan pengembangan keterampilan untuk membekali lulusan untuk belajar, bekerja dan hidup. Pandangan ini didukung oleh Permen et al., yang didukung oleh Permen et al. ( 1994), yang didukung oleh Permen et al. ( 1994) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Jones dan Sin (2003), yang menekankan bahwa siswa harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup dengan fokus pada pengembangan atribut dan keterampilan selama seumur hidup pengalaman profesional, sosial dan budaya. Fokus tidak harus pada pengembangan keterampilan yang spesifik, melainkan kemampuan untuk mengembangkan, perubahan, dan memperbarui keterampilan dan pengetahuan sepanjang hidup (Crebbin, 1997). Meskipun universitas telah menanggapi tantangan dari ‘keterampilan agenda’ dalam berbagai cara, Athiyaman (2001) nds fi bahwa siswa merasa bahwa universitas masih belum memberikan dalam hal pengembangan keterampilan dan atribut mereka dianggap penting untuk karir mereka.

Hal ini menyebabkan pengembangan pertanyaan penelitian berikut:

RQ 1: Apa keterampilan profesional yang lulus mahasiswa akuntansi anggap sebagai memiliki prioritas tertinggi untuk sukses karir?

RQ 2: Sampai sejauh mana siswa lulus akuntansi menganggap bahwa keterampilan profesional telah dikembangkan sebagai bagian dari program gelar mereka?

Secara umum, literatur perubahan pendidikan profesional yang disponsori telah merekomendasikan perluasan dari kurikulum akuntansi untuk memasukkan mereka kompetensi dilaporkan oleh Albrecht dan Sack (2000); yaitu, analitis / berpikir kritis, komunikasi tertulis, komunikasi lisan, teknologi komputasi dan pengambilan keputusan. Di Australia, sebuah survei kepuasan kerja dengan belajar dari lulusan universitas baru melaporkan bahwa ada yang dirasakan keterampilan defisiensi di daerah penting, seperti pemecahan masalah, kreativitas dan udara fl, dan komunikasi bisnis oral (AC Neilsen Research Services, 2000). Selain itu, Lee dan Blaszczynski (1999) melaporkan bahwa meskipun majikan merasa bahwa pengetahuan akuntansi dan kemampuan untuk menggunakan informasi akuntansi adalah keterampilan penting, mereka diharapkan mahasiswa akuntansi untuk belajar banyak keterampilan termasuk mampu berkomunikasi, bekerja di lingkungan kelompok, memecahkan masalah realworld, dan menggunakan komputer dan internet alat. Pengusaha mencari lulusan yang memiliki pekerjaan dan keterampilan hidup dan terutama ingin lulusan yang memiliki, antara lain, berkembang dengan baik komunikasi, kerja tim dan kemampuan memecahkan masalah (ACNeilsen, 1998, 2000). Sebuah studi utama akuntansi manajemen oleh Siegel dan Sorenson (1999) mengakibatkan pengusaha mengidentifikasi kemampuan komunikasi (, tertulis dan presentasi lisan), kemampuan untuk bekerja pada tim, kemampuan analisis, pemahaman yang kuat tentang akuntansi, dan pemahaman tentang bagaimana fungsi bisnis menjadi penting untuk keberhasilan. Namun, Mangum (1996) menunjukkan bahwa salah satu kekurangan terbesar dari calon karyawan yang dilaporkan oleh pengusaha adalah keterampilan komunikasi yang buruk. Hal ini didukung oleh Borzi dan Mills 2001 yang menemukan tingkat yang signifikan dari ketakutan komunikasi dalam mahasiswa akuntansi tingkat atas, menunjukkan perlunya perubahan dalam cara keterampilan khusus ini dikembangkan dalam kurikulum. Daggett dan Liu (1997) mensurvei 92 pengusaha lulusan akuntansi baru tentang kesiapan tenaga kerja mereka, finding mereka untuk menjadi paling tidak siap secara tertulis, menyajikan dan keterampilan interaktif, dan paling siap dalam kompetensi masuk, mengambil dan menganalisis data. Tantangan memberikan lulusan dengan keahlian yang lebih luas disorot dalam sebuah studi Eropa baru-baru (Hassal et al. . 2005). poin penelitian mereka dengan tuntutan majikan yang sama untuk keterampilan luar keterampilan et al. . 2005). poin penelitian mereka dengan tuntutan majikan yang sama untuk keterampilan luar keterampilan et al. . 2005). poin penelitian mereka dengan tuntutan majikan yang sama untuk keterampilan luar keterampilan akuntansi teknis yang diperlukan, tetapi dilaporkan pada saat yang sama bahwa majikan tidak simpatik dengan klaim dari universitas bahwa mereka memiliki kapasitas terbatas untuk memenuhi tuntutan yang lebih besar. Hal ini menyebabkan pertanyaan penelitian 3:

RQ 3: Apa keterampilan profesional melakukan pengusaha berharap lulusan akuntansi untuk memiliki di entry level?

Literatur menyoroti fakta bahwa sering pengusaha dan mahasiswa memiliki perspektif yang berbeda tentang sifat ‘keterampilan profesional’ yang diperlukan untuk karir akuntansi yang sukses. Dalam sebuah studi besar yang dilakukan pada tahun 1993, Kim et al . melaporkan bahwa tiga kriteria yang paling penting studi besar yang dilakukan pada tahun 1993, Kim et al . melaporkan bahwa tiga kriteria yang paling penting studi besar yang dilakukan pada tahun 1993, Kim et al . melaporkan bahwa tiga kriteria yang paling penting studi besar yang dilakukan pada tahun 1993, Kim et al . melaporkan bahwa tiga kriteria yang paling penting yang digunakan oleh pengusaha untuk memilih lulusan akuntansi adalah motivasi lulusan atau kepentingan dalam pekerjaan, kualitas pribadi dan keterampilan komunikasi. Namun, lulusan akuntansi merasakan hasil pemeriksaan menjadi kriteria yang paling penting yang digunakan oleh pengusaha diikuti oleh kualitas pribadi dan keterampilan komunikasi.

Radhakrishna dan Bruening (1994) membandingkan mahasiswa dan pengusaha persepsi pentingnya keterampilan di lima wilayah yang luas interpersonal, komunikasi, teknis, komputer dan keterampilan-ekonomi bisnis. Mereka temukan bahwa siswa secara konsisten peringkat semua daerah yang lebih tinggi di pentingnya dari majikan potensi mereka. Dalam studi lain yang melibatkan siswa bisnis sarjana dan pengusaha, Gabric dan McFadden (2000) mendapati bahwa baik siswa dan pengusaha peringkat komunikasi verbal, pemecahan masalah dan keterampilan mendengarkan sebagai tiga keterampilan bisnis umum, tapi untuk keterampilan lain ada perbedaan yang jelas.

Ini mengikuti bahwa meskipun pergeseran penekanan keterampilan non-teknis menjadi lebih jelas, persepsi dan harapan pemangku kepentingan yang berbeda tidak selaras. Leveson (2000) menunjukkan bahwa dalam industri, khususnya dalam bisnis, komunikasi lisan adalah keterampilan komunikasi kunci, sedangkan pada komunikasi universitas ditulis menerima lebih banyak perhatian. Selain itu, kurangnya kosa kata bersama antara pendidikan dan pekerjaan berkontribusi terhadap perbedaan dalam kepentingan relatif dari keterampilan generik utama antara industri dan universitas. Tampaknya bahwa mungkin ada kesenjangan persepsi antara apa pengusaha dan lulusan akuntansi anggap kriteria seleksi penting. Sebagai Gati (1998) menunjukkan, pengusaha mungkin memprioritaskan keterampilan yang tidak pusat untuk lulusan, sehingga mempengaruhi upaya mereka untuk mengamankan lulusan entry-level yang muat lingkungan organisasi mereka. Hal ini menyebabkan pertanyaan fi penelitian nal:

  1. Metodologi

2.1. Mencicipi

Pengumpulan data dari 322 siswa lulus di tiga universitas di Australia 1 dan 28 praktisi di sejumlah organisasi dan industri yang praktisi di sejumlah organisasi dan industri yang mempekerjakan lulusan akuntansi. Di Lembaga 1, 172 siswa melakukan baik Bachelor of Commerce atau gelar ganda dengan Bachelor of Commerce. Dari 160 siswa yang dicalonkan mereka besar, 56 persen sedang belajar akuntansi utama, dengan fi nance (37 persen) dan bisnis internasional (7 persen) menjadi besar kedua yang paling populer. Di Lembaga 2, semua siswa sedang belajar suatu utama akuntansi sebagai bagian dari Bachelor of Commerce atau Master Akuntansi dengan fi nance paling populer besar kedua. Para siswa di Lembaga 3 bernomor 120 dan mempelajari baik Bachelor of Business atau gelar ganda dengan bisnis dan 68 persen sedang mempelajari sebuah utama akuntansi. Dalam hal pekerjaan disukai setelah lulus, akuntansi, keuangan, audit.

2.2. Pengumpulan data

Baik kuantitatif dan kualitatif (Minichiello et al. . 1995) metode pengumpulan data yang digunakan.Baik kuantitatif dan kualitatif (Minichiello et al. . 1995) metode pengumpulan data yang digunakan.Baik kuantitatif dan kualitatif (Minichiello et al. . 1995) metode pengumpulan data yang digunakan.Baik kuantitatif dan kualitatif (Minichiello et al. . 1995) metode pengumpulan data yang digunakan.

2.2.1. ukuran kuantitatif

Penelitian kuantitatif melibatkan survei yang sama yang diberikan kepada kohort siswa selama kuliah. The Albrecht dan Sack survei (2000) instrumen diadopsi karena telah divalidasi sebelumnya dalam sebuah studi besar AS. Minor re nements fi dibuat untuk konteks Australia dan mencakup daerah yang disorot oleh siswa dalam kelompok-kelompok percontohan fokus. Survei terdiri dari tiga bagian:

Bagian 1 siswa diminta untuk menilai pada skala mulai dari 1 (sangat setuju) sampai 5 (sangat tidak setuju) Bagian 1 siswa diminta untuk menilai pada skala mulai dari 1 (sangat setuju) sampai 5 (sangat tidak setuju) pernyataan tentang pentingnya mempelajari berbagai program dalam akuntansi dan bisnis.

Seksi 2 siswa diminta untuk menilai 47 spesifik keterampilan fi c / atribut pada skala mulai dari 1 (tidak ada prioritas) Seksi 2 siswa diminta untuk menilai 47 spesifik keterampilan fi c / atribut pada skala mulai dari 1 (tidak ada prioritas) untuk 5 (prioritas utama) dalam kaitannya dengan: (i) pentingnya karir masa depan mereka, dan (ii) tingkat prioritas yang mereka anggap telah diberikan untuk mengembangkan keterampilan ini selama program gelar mereka.

Bagian 3 meminta informasi demografis dari para siswa yang berkaitan dengan jenis program dan bagian 3 meminta informasi demografis dari para siswa yang berkaitan dengan jenis program dan jurusan mereka belajar dan jalur karir yang dimaksudkan mereka.

2.2.2. langkah-langkah kualitatif

Sebuah studi kualitatif untuk menilai harapan pengusaha dan untuk fokus pada proses yang terjadi dalam praktek seperti yang dijelaskan oleh mereka yang terlibat secara langsung (Miles dan Hubermann, 1994) dilakukan. Selama kelompok fokus dan pertemuan individu, pendekatan wawancara semiterstruktur diadopsi memungkinkan semua peserta untuk menanggapi set yang sama pertanyaan (Carruthers, 1990). Wawancara dan kelompok fokus direkam dan ditranskrip untuk menghasilkan fakta opini, dan wawasan (Yin, 1984). Dua penilai independen (M dan N) menilai transkrip dan diidentifikasi dan peringkat pada skala 1 (tidak ada diskusi) ke 5 (banyak diskusi) atribut dan keterampilan yang majikan dianggap penting. Peringkat kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan skor untuk setiap atribut yang mengakibatkan dua set gabungan ‘kepentingan’ skor (Tashakkori dan Teddlie, 1998). Diskusi antara penilai dan para peneliti diselesaikan setiap perbedaan yang menjadi jelas. Ulasan berikut dirancang untuk mengakui bahwa meskipun ‘generalisasi seluruh individu adalah nilai, adalah penting bahwa pengalaman unik individu tidak hilang’ (Ashworth dan Lucas, 2000, hal. 304).

  1. Keterbatasan

Informasi yang disajikan dalam tulisan ini adalah dari analisis catatan dan transkrip wawancara yang dilakukan dengan orang-orang dari kelompok pengusaha yang berbeda. Wawancara seperti yang digunakan dalam penelitian ini memberikan informasi tentang melaporkan perilaku, sikap dan keyakinan. Meskipun pengambilan sampel adalah acak, dalam upaya untuk menjadi wakil, tidak mengklaim bahwa pandangan-pandangan ini adalah indikasi dari pandangan semua pengusaha lulusan akuntansi / bisnis. Sebagai studi kualitatif ini merupakan bagian dari proyek penelitian yang lebih besar, temuan disintesis dengan orang-orang dari studi kuantitatif untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.Meskipun sebagian besar pengukuran dalam ilmu perilaku melibatkan kesalahan pengukuran, penilaian yang dibuat oleh manusia sangat rentan terhadap kesalahan. Akhirnya, data demografi bisa termasuk informasi tentang pengalaman hidup sebelumnya yang mungkin telah ada di responden dipengaruhi persepsi keterampilan profesional yang diperlukan.

  1. Kesimpulan

Mahasiswa adalah kelompok pemangku kepentingan kunci ketika datang ke memeriksa pandangan tentang mengembangkan keterampilan dan atribut untuk melengkapi mereka untuk berkarir di profesi akuntansi. Menunjukkan tahap hidup mereka, siswa difokuskan pada pengembangan berkelanjutan dari keterampilan pribadi seperti sikap profesional, motivasi diri, kepemimpinan dan kemampuan untuk bekerja dalam tim. Namun, apa yang menjadi perhatian adalah penekanan saat ini sedang ditempatkan selama program akuntansi pada keterampilan bahwa siswa menganggap penting. Ia akan muncul bahwa satu-satunya keterampilan yang disampaikan sesuai dengan harapan siswa dalam penelitian ini adalah akuntansi dan penelitian keterampilan rutin. Karena motivasi siswa untuk belajar dan memperoleh keterampilan sering didorong oleh persepsi tentang relevansi keterampilan ini untuk karir mereka, temuan kertas memiliki implikasi penting bagi pendidik akuntansi.

Berkenaan dengan pengusaha, mereka mengharapkan lulusan memasuki profesi untuk memiliki tiga kemampuan analisis / pemecahan masalah keterampilan, tingkat bisnis kesadaran atau pengalaman kehidupan nyata dan keterampilan akuntansi dasar. Pengusaha juga mengharapkan keterampilan komunikasi lisan, kesadaran etika dan keterampilan profesional, kerja sama tim, komunikasi tertulis dan pemahaman tentang sifat interdisipliner bisnis. Seperti harapan ini telah dianjurkan oleh majikan untuk beberapa waktu, terus mengirim pesan yang kuat untuk pendidik akuntansi dalam hal kebutuhan untuk beradaptasi kurikulum akuntansi dengan memasukkan, misalnya, kerja terintegrasi belajar ke dalam program.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kesepakatan antara mahasiswa dan pengusaha dalam hal keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam karir di dunia bisnis / akuntansi hari ini (yaitu analitis / kemampuan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi lisan dan tertulis, kerja tim dan terus belajar). Namun, ada perbedaan dalam hal bagaimana masing-masing kelompok peringkat setiap keterampilan.

Mungkin tidak realistis untuk mengharapkan bahwa lulusan akan memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan oleh majikan (Cranmer, 2006). Pengusaha harus memahami, sebagai siswa lakukan, bahwa belajar adalah proses yang berkesinambungan dan banyak keterampilan yang lebih tinggi yang mereka harapkan hanya dapat dikembangkan dengan panduan ‘pada pekerjaan’. Leveson ini fi nding bahwa ada kurangnya kosa kata bersama antara industri dan pendidikan mungkin menjelaskan relatif kurangnya kesamaan antara keterampilan dan atribut bahwa siswa menganggap sebagai penting dan orang-orang pengusaha berharap. Sebagai Gati (1998) mengamati, jika pengusaha tetap memprioritaskan keterampilan yang lulusan entry-level tidak memiliki maka upaya mereka untuk mengamankan karyawan yang memuaskan mungkin tidak sangat bermanfaat.

Mengingat harapan siswa dan persyaratan pengusaha tingkat yang jauh lebih tinggi dari perhatian harus diberikan kepada keterampilan dan atribut yang diprioritaskan dan disampaikan dalam program akuntansi jika lulusan akuntansi untuk bertahan hidup dalam lingkungan bisnis global saat ini. Tanpa ragu, keterampilan perdebatan akan terus mengamuk. Setiap perpanjangan penelitian ini harus mencakup penelitian lebih pada persepsi lulusan sudah bekerja di industri dan akademisi dan badan-badan profesional yang memainkan peran besar dan sangat penting dalam memproduksi kurikulum untuk membantu mengembangkan keterampilan ini dalam akuntansi profesional di masa depan.

References

Accounting Education Change Commission, 1990, Objectives of education for accountants: position statement number one, Issues in Accounting Education 5, 307–312.

ACNielsen Research Services, 2000, Employer Satisfaction with Graduate Skills: Research Report (Evaluations and Investigations Programme Higher Education Division, DETYA).

Adler, R. W., and M. J. Milne, 1996, Participative learning, Chartered Accountants   Journal of New Zealand 75, 9–13.

Agyemang, G., and J. Unerman, 1998, Personal skills development and first year undergraduate accounting education: a teaching note, Accounting Education 7, 87–92.

Aikin, M. W., J. S. Martin, and J. G. P. Paolillo, 1994, Requisite skills of business school graduates: perceptions of senior corporate executives, Journal of Education for Business 69, 159–162.

Albin, M. J., and J. R. Crockett, 1991, Integrating necessary skills and concepts into the accounting curriculum, Journal of Education for Business 66, 325–327.

Albrecht, W. S., and R. J. Sack, 2000, Accounting education: charting the course  through a perilous, Accounting Education Series 16, 1–72.

American Accounting Association, Committee on the Future Structure, content and Scope of Accounting Education (the Bedford Committee), 1986, Future accounting education: preparing for the expanding profession, Issues in Accounting Education 1, 168–195.

Ashbaugh, H., and K. M. Johnstone, 2000, Developing students’ technical knowledge and professional skills: a sequence of short cases in intermediate financial accounting, Issues in Accounting Education 15, 67–88.

Ashworth, P., and U. Lucas, 2000, Empathy and engagement: a practical approach to the design, conduct and reporting of phenomenographic research, Studies in Higher Education 25, 295–308.

Athiyaman, A., 2001, Graduates’ perceptions about business education: an exploratory research, Journal of Further and Higher Education 25, 5–19.

Barrie, S., 2004, A research-based approach to generic graduate attributes policy, Higher Education Research and Development 23, 261–275.

Bennett, N., E. Dunne, and C. Carre, 2000, Skills Development in Higher Education and Employment (SRHE and Open University Press, Buckingham, UK).

Birkett, W. P., 1993, Competency Based Standards for Professional Accountants in Australia and New Zealand (Institute of Chartered Accountants in Australia and the New Zealand Society of Accountants, Sydney, NSW).

Birrell, B., 2006, The Changing Face of the Accounting Profession in Australia (CPA Australia, Melbourne, Vic.).

Bonk, C. J., and G. S. Smith, 1998, Alternative instructional strategies for creative and critical thinking in the accounting curriculum, Journal of Accounting Education 16, 261–293.

Borzi, M. G., and T. H. Mills, 2001, Communication apprehension in upper level accounting students: an assessment of skill development, Journal of Education for Business 76, 193–198.

Boud, D., and G. Feletti, 1991, The Challenge of Problem Based Learning (Kogan Page, London).

Bowden, J., and F. Marton, 1998, The University of Learning: Beyond Quality and Competence (Kogan Paul, London).

Bowden, J. A., and G. N. Masters, 1993, Implications for Higher Education of a Competency Based Approach to Education and Training (Australian Government Publishing Service, Canberra, ACT).

Brannen, J., 1992, Combining qualitative and quantitative approaches: an overview, in: J. Brannen, ed., Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research (Avebury, Aldershot, UK), 3–37.

Braun, N. M., 2004, Critical thinking in the business curriculum, Journal of Education for Business 78, 232–236.

Candy, P., G. Crebert, and J. O’Leary, 1994, Developing Lifelong Learners Through Undergraduate Education, Commissioned Report 28 (Australian Government Publishing Service, Canberra, ACT).

Carr, W., and S. Kemmis, 1986, Becoming Critical: Education, Knowledge, and Action Research (Falmer Press, London).

Carruthers, J., 1990, A rationale for the use of semi-structured interviews, Journal of Educational Administration 28, 63–68.

Clanchy, J., and B. Ballard, 1995, Generic skills in the context of higher education, Higher Education Research and Development 14, 155–166.

Clarke, P. J., 1990, The Present and Future Importance of Curriculum topics Relevant to Accounting Practice: A Study of Irish Perceptions (University College Dublin, Dublin, Ireland). Cooper, B., 2002, The future accountant [online; 10 June 2005]. Available: http://www. thehindubusinessline.com/bline/2002/07/04/stories/2002070400371100.htm.

CPA Australia and the Institute of Chartered Accountants in Australia, 2005, Accreditation Guidelines for Universities [online; cited 5 May 2007]. http://www.aph.gov.au/senate/ committee/eet_ctte/completed_inquiries/2002-04.htm.

Cranmer, S., 2006, Enhancing graduate employability: best intentions and mixed outcomes, Studies in Higher Education 31, 169–184.

Crebbin, W., 1997, Teaching for lifelong learning, in: R. Ballantyne, J. Bain and J. Packer, eds, Reflecting on University Teaching Academics’ Stories (CUTSD and Australian Government Publishing Service, Canberra, ACT), 139–150.

Crebert, R. G., 2002, institutional research into generic skills and graduate attributes: constraints and dilemmas, Higher Educational Research and Development 21, 121–135.

Daggett, P. D., and W. Y. Liu, 1997, Prepared to perform? Employers rate work force readiness of new grads, Journal of Career Planning and Employment LVII, 32–35, 52–56.

DeLange, P., B. Jackling, and A. Gut, 2006, Accounting graduates’ perceptions of skills emphasis in Australian undergraduate accounting courses: an investigation from 2 Victorian universities, Accounting and Finance 46, 365–386.

Deppe, L. A., E. O. Sonderegger, J. D. Stice, D. C. Clark, and G. F. Streuling, 1991, Emerging competencies for the practice of accountancy, Journal of Accounting Education 9, 257–290.

Elliott, R. K., and P. D. Jacobson, 2002, The evolution of the knowledge professional, Accounting Horizons 16, 69–80.

Field, A., 2000, Discovering Statistics Using SPSS for Windows (Sage Publications, London).

Gabric, D., and K. McFadden, 2000, Student and employer perceptions of desirable entry-level operations management skills, Mid-American Journal of Business 16, 51–59.

Gati, I., 1998, Using career-related aspects to elicit preferences and characterize occupations for a better person-environment fit, Journal of Vocational Behaviour 52, 343–356.

Haigh, M. J., and M. P. Kilmartin, 1999, Student perceptions of the development of personal transferable skills, Journal of Geography in Higher Education 23, 195–206.

Hall, W. D., 1998, The education of an accountant, Massachusetts CPA Review 62, 34–38. de la Harpe, B., A. Radloff, and J. Wyber, 1999, What do professional skills mean for different disciplines in a business school? Lessons learned from integrating professional skills across the curriculum, 7th ISL Symposium, York, September 1999.

Hassall, T., J. Joyce, J. L. Montanto, and J. A. Anes, 2005, Priorities for the development of vocational skills in management accountants: a European perspective, Accounting Forum 29, 379–394.

Herring, H. C., and J. R. Williams, 2000, The role of objectives in curriculum development, Journal of Accounting Education 18, 1–14.

Holmes, L., 2002, Reframing the skills agenda in higher education: graduate identity and the double warrant, in: D. Preston, ed. (University of Crisis Rodopi Press, Amsterdam) 135–152.

Holmes, L., 2001, Reconsidering graduate employability: the ‘graduate identity’ approach, Quality in Higher Education 7, 111–119.

Howieson, B., 2003, Accounting practice in the new millennium: is accounting education ready to meet the challenge? British Accounting Review 35, 60–104.

Hunton, J. E., 2002, Blending information and communication technology with accounting research, Accounting Horizons 16, 56–67.

International Federation of Accountants, Education Committee, 1996, IEG 9 Prequalification Education, Assessment of Professional Competence and Experience Requirements of Professional Accountants (IFAC, New York).

International Federation of Accountants, 2006, Professional Accountancy Qualifications Common Content Project (IFAC, New York) [online; cited 15 March 2007]. Available: http://www.cndc.it/CNDC/Documenti/gdc/200701/internazionale.htm.

James, L. R., 1982, Aggregation bias in estimates of perceptual agreement, Journal of Applied Psychology 69, 85–98.

Jones, A., and S. Sin, 2003, Generic Skills in Accounting, Competencies for Students and Graduates (Prentice Hall, Frenchs Forest, NSW). Kim, T. S., B. C. Ghosh, and L. A. Meng, 1993, Selection criteria: perception gap between employers and accounting graduates, Singapore Accountant 9, 32–33.

Laurillard, D., 1984, Learning from problem solving, in: F. Marton, D. Hounsell and N. Entwistle, eds, The Experience of Learning (Scottish Academic Press, Edinburgh, UK), 124–143.

Lee, D. W., and C. Blaszczynski, 1999, Perspectives of ‘Fortune 500’ executives on the competency requirements for accounting graduates, Journal of Education for Business 75, 104–108.

Leggett, M., A. Kinnear, M. Boyce, and I. Bennett, 2004, Student and staff perceptions of the importance of generic skills in science, Higher Education Research and Development 23, 295–312.

Leveson, L., 2000, Disparities in perceptions of generic skills: academics and employers, Industry and Higher Education 14, 157–164.

Mangum, W. T., 1996, How job seekers should approach the new job market, Journal of Career, Planning and Employment, LVI, 67–80.

Mathews, M. R., 2000, Accounting in Higher Education: Report of the Review of the Accounting Discipline in Higher Education (Commissioned by the Department of Employment, Education and Training, AGPS, Canberra, ACT).

Mathews, M. R., 2004, Accounting curricula: does professional accreditation lead to uniformity within Australian bachelor’s degree programmes? Accounting Education 13 (Suppl. 1), 71–89. Mathews, M. R., M. Jackson, and P. Brown, 1990, Accounting in Higher Education: Report of the Review of the Accounting Discipline in Higher Education, Volume 1 (Australian Government, Canberra, ACT).

Miles, M. B., and A. M. Huberman, 1994, Qualitative Data Analysis a Sourcebook of New Methods (Sage Publications, Beverley Hills, CA).

Minichiello, V., R. Aroni, E. Timewell, and L. Alexander, 1995, In-Depth Interviewing (Longman Australia, Melbourne, Vic.).

Mohamed, E. K., and S. H. Lashine, 2003, Accounting knowledge and skills and the challenges of a global business environment, Managerial Finance 29, 3–16.

Morgan, G. J., 1997, Communication skills required by accounting graduates: practitioner and academic perceptions, Accounting Education 6, 93–107.

Needles, B. F., and M. Powers, 1990, A comparative study of models for accounting education, Issues in Accounting Education 5, 250–267.

 

Nelson, S. J., S. Moncada, and D. C. Smith, 1996, Written language skills of entry-level accountants as assessed by experienced CPA’s, Business Communication Quarterly 59, 22–27.

Analisis Laporan Keuangan

  1. Pengertian

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Analisa Laporan Keuangan terdiri dari dua kata Analisa dan Laporan Keuangan. Analisa adalah memecahkan atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil. laporan keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi, dan Arus Kas (Dana).

Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat (Sofian Syafri Harahap, 1998:190).

Menurut Soemarso (2006:430), adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena.

Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis.

Untuk dapat memproleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu perusahaan, perlu mengadakan analisa atau interprestasi terhadap data finansial dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam laporan keuangan. Ukuran yang sering digunakan dalam analisa finansial adalah ratio.

Rasio keuangan dibagi tiga macam umum yaitu :

  • Ratio Likuiditas,
  • Ratio Solvabilitas, dan
  • Ratio Rentabilitas.

 

  1. Macam – Macam Ratio
  • Ratio Likuiditas

Ratio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajian financial jangka pendek yang berupa hutang – hutang jangka pendek (short time debt).

  1. Current Ratio Rasio Lancar)

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.

  1. Cash Ratio ( Rasio Lambat)

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan yang disimpan di Bank.

  1. Quick Ratio ( Rasio Cepat )

Merupakan rasio yang digunaka untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid.

  • Ratio Solvabilitas

Rasio ini disebut juga Ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank).

  1. Total Debt to Total Capital Asset

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

  1. Total Debt to Equity Ratio

Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya.

  • Ratio Rentabilitas

Rasio ini disebut juga sebagai Ratio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.

  1. Gross Profit Margin ( Margin Laba Kotor)

Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.

  1. Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)

Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.

  1. Earning Power of Total investment

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto.

  1. Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen.

  1. Metode Perhitungan

RASIO

METODE PERHITUNGAN
  1. 1.      RASIO LIKUIDITAS
 
  1. Current Ratio
Aktiva Lancar

Hutang Lancar

  1. Cash Ratio
(Kas + Efek)

Hutang Lancar

  1. Quick Ratio
(Aktiva Lancar – Persediaan)

Hutang Lancar

  1. 2.      Rasio Solvabilitas
 
  1. Total Debt to Total Capital Assets
Total Hutang

Total Aktiva

  1. Total Debt to Equity Ratio
Total Hutang

Ekuitas Pemegang Saham

  1. 3.      Rasio Rentabilitas
 
  1. Gross Profit Margin
Laba Kotor

Penjualan Bersih

  1. Net Profit Margin
Laba setelah pajak

Penjualan Bersih

  1. Earning Power of Total investment
Laba sebelum pajak

Total Aktiva

  1. Return on Equity

Laba setelah pajak

Ekuitas Pemegang Saham

 

sumber : Google.com, Blog & WordPress, Wikipedia.

DSS

DSS (decision support system) atau sistem pendukung keputusan adalah kumpulan aplikasi perangkat lunak yang terintegrasi dan perangkat keras yang membentuk tulang punggung dari keputusan organisasi proses pengambilan.

 

Komponen

Tiga komponen fundamental dari arsitektur DSS adalah

1.database (atau basis pengetahuan),
2.model (yaitu, konteks keputusan dan kriteria pengguna), dan
3.user interface.

Komponen DSS dapat diklasifikasikan

1.Input: Faktor, angka, dan karakteristik untuk menganalisis
2.Pengguna Pengetahuan dan Keahlian: Masukan membutuhkan analisis manual oleh pengguna
3.Output: Data yang telah ditransformasikan dari mana DSS “keputusan” yang dihasilkan
4.Keputusan: Hasil yang dihasilkan oleh DSS berdasarkan kriteria pengguna
sumber
Google
Blog
dan lain-lain

Peranan peralatan input dan output serta software dalam pemecahan masalah

Peralatan Input

 

Beberapa alat input memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai alat input dan juga sebagai alat output untuk menghasilkan data. Alat input/ouput demikian dikenal dengan terminal. Alat input dibagi ke dalam dua golongan yaitu alat input langsung dan tidak langsung. Bila terminal dihubungkan dengan pusat komputer yang letaknya jauh dari terminal melalui alat komunikasi, maka disebut dengan nama Remote Job Entry (RJE) terminal atau Remote Batch terminal.

Alat input langsung memungkinkan input diproses secara langsung oleh CPU melalui alat input tanpa terlebih dahulu dinmasukkan ke dalam media penyimpanan ekternal. Alat input langsung terdiri dari beberapa golongan yaitu: keyboard, pointing device, scanner, voice recognizer.

Alat input tidak langsung , dimana data yang dimasukkan tidak langsung diproses oleh CPU, tetapi direkam terlebih dahulu ke suatu media mechine readable form (bentuk yang hanya dapat dibaca oleh komputer dan merupakan penyimpanan ekternal). Alat input tidak langsung terdiri dari: key-to-card, key-to-tape, key-to-disk.
Penyimpanan primer (primary storage)
Penyimpanan primer ada dalam beberapa bentuk yang memberikan beragam kemampuan dalam hal operasi dan kecepatan. Ukuran dari penyimpanan primer ditunjukkan dalam satuan Kilo Byte(KB), Mega Byte(MB), Giga Byte(GB).

Bentuk-bentuk penyimpanan primer:

·         RAM (random access memory), adalah memori yang dapat diakses yaitu memori yang dapat diisi dan diambil isinya. RAM bersifat volatile karena isinya akan hilang bilang listrik padam.

·         ROM (read only memory) adalah memori yang hanya dapat dibaca dan bersifat non volatile yaitu isi dari ROM tidak akan hilang jika listrik padam. ROM berisikan intruksi dan data yang memberitahukan komputer apa yang akan dilakukan pada saat komputer dinyalakan.

·         Cache Memory merupakan RAM khusus yang diletakkan antara processor. Cache memory akan dibaca terlebih dahulu oleh processor sebelum mencari intruksi atau data di RAM biasa.

Unit Output
Output yang dihasilkan pengolahan data dapat digolongkan ke dalam 4 macam bentuk, yaitu : tulisan, image, suara, dan bentuk yang hanya dapat di baca dan dimengerti komputer. Tiga yang pertama adalah output yang dapat dipergunakan langsung oleh manusia, sedangkan yang ke empat digunakan sebagai input untuk proses selanjutnya atau sebagai input komputer yang lain.

Alat output dapat berbentuk :

  1. Hard copy, alat yang digunakan untuk mencetak tulisan, angka, karakter khusus dan simbol serta image pada media hard (keras) seperti misalnya kertas atau film. Misalnya Printer, Plotter, COM (Computer Output Microform)
  2. Soft copy, alat yang digunakan untuk menampilkan tulisan, image pada media soft (lunak) yang berupa sinyal elektronik. Misalnya video display, flat planel display, speaker.

Software
Perangkat lunak (software) adalah satu atau kumpulan dari beberapa program. Perangkat lunak terbagi perangkat lunak sistem dan perangkat lunak aplikasi.
Perangkat lunak sistem melaksanakan tugas-tugas dasar yang diperlukan semua pemakai komputer yang berhubungan dengan perangkat keras. Perangkat lunak ini disediakan oleh pembuat perangkat keras atau oleh perusahaan yang mengkhususkan diri dalam membuat perangkat lunak.

Ada 3 jenis dasar perangkat lunak sistem: sistem operasi, penterjemah bahasa dan program utility.
Perangkat lunak aplikasi adalah program yang dibuat oleh pemakai menggunakan bahasa pemrograman untuk menyelesaikan suatu tugas khusus.

Database
Era Database
Sebelum era database ditandai dengan

  • Sumber data dikumpulkan dalam file-file yang tidak terhubung satu dengan lainnya
  • Setiap aplikasi memiliki/merancang file data sendiri
  • Memiliki kelemahan: duplikasi data, ketergantungan data, kepemilikan data tersebar

Untuk memecahkan masalah di atas dilakukan dengan cara pengorganisasian data secara fisik dan mengarah ke organisasi logis. Organisasi fisik (logical organization), mengintegrasikan data dari beberapa lokasi fisik yang berbeda dan merupakan cara pemakai melihat data. Organisasi fisik (physical organization), merupakan cara komputer melihat data sebagai file-file yang terpisah.

  1. .Konsep databaseMerupakan integrasi logis dari catatan-catatan dalam banyak file. Database adalah suatu koleksi data komputer yang terintegrasi, diorganisasikan dan disimpan dalam suatu cara yang memudahkan pengambilan kembali.

    Tujuan utama dari konsep database:

    1. Meminimumkan pengulangan data
    2. Independensi data
    3. Inkonsistensi data
    4. Pemakaian bersama

Hirarki data :

  1. Field
  2.  Record
  3.  File
  4.  Database

 

2.Struktur database

Penekanan pada kegiatan pengolahan data adalah pada kemampuan untuk mengakses data dengan cepat serta efisien dalam penggunaan secondary storage.
Struktur data berjenjang (hierarchical data structure)
Hubungan antara data membentuk suatu jenjang seperti pohon. Suatu pohon dibentuk dari beberapa elemen grup data yang berjenjang, disebut dengan node. Node yang paling atas atau level 1 disebut dengan root . tiap node dapat bercabang ke node lain. Satu node hanya mempunyai satu orang tua.

  1. Struktur data jaringan (network data structure)Hubungan data sama dengan struktur hirarki, tetapi untuk setiap node bisa mempunyai lebih dari satu orang tua.
  2. Struktur data hubungan (relational data structure)Data disusun dalam bentuk tabel dua dimensi yang terdiri dari kolom (field) dan baris (record). Hubungan antara record didasarkan pada nilai dari field kunci bukan berdasarkan alamat atau pointer di dalam record seperti pada strutur pohon dan jaringan.

Komputer apapun jenisnya, selalu memiliki suatu peralatan yang disebut sebagai: Input device, Central Processing Unit, Output Device dan External memory.

a.       Input Device

Input device bisa diartikan sebagai peralatan yang berfungsi untuk memasukkan data ke- dalam komputer. Jenis input device yang dimiliki oleh komputer cukup banyak, seperti :
Keyboard
Alat penunjuk ( mouse, touch-screen monitor, Light Pen, Unit Remote Control)
Alat input otomatisasi data sumber ( Scanner, MICR, EFT)
Alat input pengenal suara (microphone)
Alat input pengenal gambar (camera)

Dalam kehidupan sehari-hari, mata manusia juga bisa diartikan sebagai salah satu input device yang berfungsi untuk memasukkan data kedalam otak manusia. Membaca bisa diartikan sebagai memasukkan data (kedalam otak manusia) melalui mata.

b.      Central Processing Unit (CPU)

Bagian ini berfungsi sebagai pemegang kendali dari jalannya kegiatan komputer, dan dikarenakan itu, CPU juga disebut sebagai otak dari komputer. Selain dari pada itu, CPU juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan pelbagai pengolahan data. Pekerjaan engolahan data diantaranya: mencatat, melihat, membaca, membandingkan, menghitung,

mengingat, mengurutkan maupun membandingkan.

Dalam bekerja, fungsi dari CPU terbagi menjadi :

Internal Memory/Main Memory, berfungsi untuk me-nyimpan data dan program. ALU (Arithmatic Logical Unit), untuk melaksanakan perbagai macam perhitungan. Control Unit, bertugas untuk mengatur seluruh operasi computer

CPU juga disebut sebagai microprocessor. Dimana untuk bekerja microprocessor dipengaruhi oleh kapasitas pemrosesan Bit-nya dan juga frekwensi kerjanya. Kapasitas bit untuk Microprocessor ada 8 bit, 16 bit, 32 bit dan 64 bit. Kemampuan CPU dilihat dari bit- nya, bila suatu processor berkapasitas pemrosesan 8 bit, dapat diartikan bahwa pemrosesan tersebut memiliki 8 pintu masuk untuk menerima bit-bit instruksi. Dengan demikian, processor 16 bit, dapat memproses kira-kira 2 kali lebih cepat dari yang 8 bit.

Faktor lain yang mempengaruhi kecepatan kerja microprocessor adalah frekwensi kerja komputer. Ada CPU yang mempunyai frekwensi 4.77 Mhz (mega hertz = juta hertz), 8 Mhz, 16 Mhz, 40 Mhz, 50 Mhz dan lain sebagainya. Semakin tinggi frekwensi yang dimilikinya, semakin tinggi pula kecepatan memprosesnya.

Microprocesor 8 bit adalah 8088, biasa digunakan untuk komputer PC-XT dengan frekwensi 4.77 Mhz. Microprocessor 16 bit adalah 80286, dipasang untuk type PC-AT dengan frekwensi antara 8 Mhz hingga 20 Mhz. Microprocessor 32 bit adalah 80386 dan 80486, kedua jenis microprocessor ini dipasang pada jenis PC-ATgan frekwensi antara 20 Mhz hingga 40 MHZ. Kini beredar microprocessor jenis 80586 (pentium) dan 80686

Microprocessor 586 dikenal dengan nama pentium, telah dirilis sejak bulan Maret 1993. Banyak perubahan dan peningkatan pada processor ini. Kecepatan yang dimiliki adalah 112 MIPS (Million Instruction PerSecond) atau meningkat 5 kali lebih cepat dari generasi 486.

c.       Output Device

Output device bisa diartikan sebagai peralatan yang berfungsi untuk mengeluarkan hasil pemrosesan ataupun pengolahan data yang berasal dari CPU kedalam suatu media yang dapat dibaca oleh manusia ataupun dapat digunakan untuk penyimpanan data hasil proses. Jenis output device yang dimiliki oleh komputer cukup banyak, seperti :

Alat output tampilan ( layar monitor, LCD proyektor)
Alat output cetakan (printer)
Alat output suara (speaker device)

Microform

Alat output grafik (printer, plotter, layar tampilan)

Dalam kehidupan sehari-hari, menulis, juga bisa dikatakan sebagai suatu cara untuk mengeluarkan hasil pemikiran kedalam suatu media sehingga bisa dibaca oleh manusia. Media yang dipergunakan untuk menulis bisa berupa kertas ataupun bentuk lainnya.

Dalam sebuah perusahaan baik staf maupun manager sering tampak menggunakan keyboard dan layar tampilan dan mungkin printer dan plotter dalam memecahkan masalah. Alat input dan output ini menyediakan hubungan komunikasi antara pengguna (user) dengan computer dan karenanya berperan langsung pada pemcahan masalah. Ada pula alat pada computer yang tidak secara langsung berperan dalam pemecahan masalah, contohnya seorang manager meminta stafnya untuk mengumpulkan informasi dari laporan-laporandalam bentuk microfilm dan menyajikan ringkasannya dalam bentuk grafik. Jadi bisa disimpulkan bahwa semua alat input maupun output dapat berkontribusi pada pemecahan masalah baik secara langsung maupun tidak langsung

sumber

http://aldidoniprabowo.blogspot.com/2011/12/peranan-peralatan-input-dan-output.html
http://sitisholihahpuspitasari.blogspot.com/2010/12/peranan-peralatan-input-dan-output.html

http://vhalega.blogspot.com/2010/12/peranan-peralatan-input-dan-output.html

http://ayuclark.blogspot.com/2011/12/sistem-informasi-manajemen-tugas-3.html

ily.staff.gunadarma.ac.id/…/files/…/catatan+kuliah+minggu3_4.doc